CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Minggu, 01 November 2009

Firasat!

[Written @ 00:00 am]

Ini bukan judul lagunya mantan pasangan penyanyi yang ketemu di Lapo Batak itu. Ini tentang perasaan.

Perasaan itu sesuatu yang dirasa. Kata dasar untuk “perasaan” adalah “rasa”. Dalam bahasa Indonesia, kata “rasa” digunakan untuk memaknai dua kata yang samasekali berbeda maksudnya. Untuk lebih mudahnya, dalam bahasa Inggris, kata “rasa” dibedakan dengan feeling dan taste.

Perasaan yang aku bicarakan disini adalah feeling. Ya firasat itu tadi.

Ceritanya begini. Aku pernah dekat dengan seseorang—sebut dia eAw—sekitar tahun 2004 lalu. Dia bukan cinta pertama, bukan pula yang terakhir. Tapi dia—lewat hubungan kami yang (sebutlah) aneh di masa lalu itu—tetap masih ada jauh di sana, di hatiku. Mungkin itu sebab kenapa di momen-momen kejadian tertentu dengan mudah dia bisa muncul lagi di ingatanku; dengan atau tanpa kusadari.

Misalnya tiga minggu lalu (antara tanggal 5-11 Oktober 2009), aku bermimpi tentangnya. Dua mimpi selama range waktu tersebut. Yeah, pikirku, mungkin ini akibat dia sering menyapa lewat instant messaging (IM) dalam minggu itu, setelah cukup lama kita tak saling sapa (hummm, aku sampai lupa kapan terakhir kali kontak dengannya secara intens—meski sapa-sapa ringan di IM/BBMan tetap ada).

Saat itu obrolan intens kembali. Diawali dengan kiriman ucapan mohon maaf lahir batin darinya. Dan (tentu saja) aku menjawab seperti caraku menjawab ucapan sama dari orang lain: “Ya, sama-sama ya...”. Tapi ternyata jawaban singkatku itu malah menjadi bahan obrolan yang membawa kita mundur lima tahun. Bagaimana dia benar-benar meminta maaf sepenuh hati (man, he meant it!) atas kejadian di masa lalu.

Aku agak heran dengan kata-katanya. Bukankah kita sudah tidak meninggalkan apapun untuk hal itu? Bahwa kita sudah menyelesaikannya dengan tuntas. Bahwa kita sudah berjalan masing-masing. Bahwa kita sudah mengubah track hubungan ini menjadi pertemanan sempurna tanpa embel-embel apapun? Intinya, kita, atau aku—orang yang menurut dia menjadi pesakitan di hubungan kami di masa lalu itu—sudah sangat ikhlas dan nrimo. Dan yang paling penting, I’m living my life.

Yang lebih mengherankan lagi, sebenarnya hal ini sudah pernah kita bahas sekitar dua tahun lalu. Sekali lagi: itu sudah tuntas, tas, tassss! Tapi ketika memperhatikan kalimat-kalimatnya, aku merasakan sesuatu yang luar biasa. Ini bukan tentang rasa sayang yang kembali tumbuh atau sejenisnya. Aku malah melihatnya sebagai tanda kehilangan. “Tuhan, tidak ada yang akan pergi, kan?” tanyaku saat itu.

Kalau bermain perasaan yang feeling itu, mari menyebut ini sebagai Firasat I.

Beberapa hari kemudian dia menyapa lagi, menanyakan keadaan keluargaku pasca G/30-S (baca: gempa Sumbar tanggal 30 September 2009). Kok dia jadi perhatian seperti itu? Ah, mungkin dia membaca status message-ku di hari sebelumnya. Kubilang ayah baik-baik saja. Sejak ini, hampir tiap hari kami saling sapa. Biasanya dimulai dengan saling mengomentari status message. Tak lagi hanya dia yang memulai, aku pun berinisiatif.

Nah, intensitas saling sapa inilah yang kupikir membangkitkan lagi memoriku tentang dia. Yeah, aku bermimpi tentangnya. Di sana ada aku, dia, dan AbDal (‘the replacement’ of him  ). Tak ada yang istimewa dari mimpi itu. Hanya seakan mengulang pembicaraanku dengan AbDal ketika dia akan berangkat ke tempatnya sekarang (dan kebetulan, di masa-masa itu si eAw mulai menghubungiku lagi untuk menuntaskan ‘unfinished story’ diantara kita di masa lalu).

AbDal: Dueee, yang lagi deket ama mantan...
Aku: Dueee, yang mo pergi ninggalin...


Nah, pembicaraan tsb ter-rewind dalam mimpi itu. Mari menyebut ini sebagai Firasat II.

Sabtu (17/8) pagi, aku terbangun dengan otak yang masih memikirkan mimpi semalam. Ada aku, eAw, dan seseorang lain yang kutahu adalah ‘bini baru’-nya eAw. Lagi-lagi, tak ada yang istimewa dari sini. Jadi, sebut saja ini sebagai Firasat III.

Tepat hari ini, di dua minggu lalu, aku mendapat SMS dari seorang teman (hummm, I didn’t get it from the first mouth) yang mengatakan bahwa ayahnya eAw meninggal dunia sehari setelah aku mendapat Firasat terakhir.

Akhirnya, lewat itu, aku mengerti jawaban atas pertanyaanku tentang permintaan maaf eAw dan mimpi-mimpi itu.

Selamat jalan om, bapak, papanya eAw, semoga mendapat tempat paling mulia di sana.
Untuk eAw yang menulis “Selamat jalan kekasih...” pada status msg-nya di sehari setelah hari duka: Be tough, Mas. Kekasihmu pergi tanpa beban, sebab beban itu (keluarga: mama & kedua adek) kini bertumpu di pundak si sulungnya—kamu!

"Hamparan langit kosong
Selembar kertas beterbangan
berputar-putar pada lingkaran angin
Berlompat-lompat lalu terdiam
dan mengembang pada waktu

Pernahkah kau bayangkan
saat angin tiba-tiba berhenti,
apa yang ada?
Selembar kapas mungkin akan menjadi puing,
kemana perginya?
Dan kita lalu tiada"
[“Tiada”, Aguk Irawan Mn]




NB:
- Maaf bila tidak berkenan dengan tulisan ini. Tapi mohon, hargai hak saya untuk sharing perasaan. Sebab bagi saya, yang terpenting sekarang adalah menciptakan dan menjalani kehidupan di arena kita masing-masing; dan meyakini bahwa masa kini tidak selamanya diakibatkan oleh masa lalu (nggg, kalian kenapa-kenapa belum tentu karena saya, kan?). *dueh...jadi ribet, dah!*
- AbDal, kamu enggak marah dengan tulisan ini? *berpura-pura nanya, padahal aku tau kamu bakal fine-fine aja. Terbukti di tulisan-tulisan sebelum ini & komentar kamu pada ceritaku tentang keberatan seseorang atas tulisan-tulisan itu. Trims, cinta!*



Minggu, 19 Juli 2009

Saat Terakhirku Melihat Kamu…

















15 Juli 2009

-Pagi, 05.30

Aku. Bangun, ngulet-ngulet. Ke washtafel, bersihin muka, gosok gigi. Ke teras depan, ambil koran. Ke dapur, biikin susu. Balik ke tempat tidur, ngulet unit 2, baca koran.


Ke halaman samping (emang halamannya cuman satu, yak!), ke rumah anak-anak. Ough, pengen liat mereka dari luar dulu. Itu menyenangkan sekali, sebab mereka berdua selalu antusias kalau ada yang datang untuk mengeluarkan dari kandang—ya, rumah mereka. Mungkin mereka tahu bahwa makanan semalam akan diganti dengan yang baru, rumahnya akan dibersihkan (yaa, meskipun ini jarang, ini tugas Si Utha), dan yang terpenting: mereka akan dibiarkan berlarian di halaman!


Itu sebab mereka selalu berdiri denga dua kaki, kayak orang jinjit gitu, menegak-negakkan kepalanya ke atas (--kandang ditutup rapat untuk menghindari kucing, ‘pintu’ terdapat di bagian atas).

Pas lihat dari samping, yang kelihatan berdiri tegak cuman si coklat. Aku jadi takut: apa Si Utha lupa masukin si grey, yah? Pas buka kandang,,, mmmm, ternyata keduanya ada di sana. Si grey masih tiduran, dengan posisi lucu sekali. Badannya gepeng aneh. Si coklat sudah terus berdiri, tak sabar minta dikeluarkan, maka kukeluarkan dia.


Si grey masih saja diam di sana, sesekali mengulet. Tumben dia jadi pemalas begini, biasanya paling lasak.* Hummm, jahilku timbul, kukitik-kitik bagian bawah perutnya dan dia terus bergerak-gerak, mengulet. Aah, alhamdulillah enggak kenapa2, kirain sakit atau apa. Wong matanya juga masih terbuka cerah begitu. Ambil kamera ah, lucu banget posisi tidurnya.




Kembali ke halaman, aku masih menemukan si grey dengan posisi sama. Kucoba gelitikin lagi, lalu mencoba mengangkatnya. Kaki dan bagian badan lainnya bergerak nakal, seperti biasa. Tapi kenapa dengan kepala itu? Seakan berat sekali baginya untuk mengangkat kepala itu. Aku coba mengangkatnya, tapi kepala itu teleng.* Aku periksa seluruh badannya, apa ada luka, mungkin ada kucing jahil yang mencakar lehernya, atau apalah. Sebab, sewaktu masih SD dulu, kelinciku dicakar di bagian kening di suatu malam oleh kucing yang juga kami pelihara di rumah, namun keesokan siangnya dia mati meski sebelumnya seluruh anggota badannya bisa bergerak normal.


“Bang, anak lu kenapa tuh? Gak bergerak dia. Sakit apa?” aku bangunkan Si Utha. Tak seperti biasa, dia langsung bangun, dan melihat ke kandang. Dia angkat dan tidurkan di atas kain di dalam rumah, “Lu sih,,,, pake dimandiin segala! Ini tuh masih bayi, tauk!!!!” katanya marah.


“Kita bawa ke dokter ya.”

“Makanya lu, udah aku bilang juga, jangan bla bla bla….” sambil terus memegang si grey.

“Hey!!! Aku juga kesian,,, lu marah2 gitu ini juga udah kejadian. Bukannya dia sembuh lu tuh malah bikin aku stress!”

“Ude, cepetan!”

“Apa?”

“Cepetan kita ke dokter! Sekalian bawa si coklat vaksin…”

Aku alas si grey dengan kain tebal, aku tidurkan di jok belakang. Kakinya bergerak-gerak, tapi kepala itu tetap memaku. Si coklat dimasukkan si Utha di keranjang bambu tempat membawa mereka waktu baru dibeli, lalu ditaruh di bawah kakiku.


Perjalanan dari rumah ke RS sekitar 15 menit dalam kondisi normal, berhubung ini jam sibuk, kami membutuhkan hampir 25 menit untuk bisa mencapainya. Di jalan, sekitar lima menit lagi tiba di RS, kudengar suara teriakan yang ternyata dari si grey. Ah, dia masih aman! (Hmmm, meski dulu, dulu sekali, keluargaku pernah dua kali memelihara kelinci, yaitu saat aku SD dan SMP, aku lupa atau tidak tahu sama sekali bahwa kelinci juga bisa bersuara. Pagi itu, lewat teriakan si grey tadi, aku baru menyadarinya). Sepanjang jalan, tiga kali kudengar suaranya. Kupantau terus bagian bawah perutnya untuk memasikan bahwa ia masih bernafas. Matanya semakin sayu.




Tibalah kami di RS yang terletak persis di belakang gedung Wisma MM UGM. Kugendong si grey, Utha bawa si coklat. Nyampe di dalam, tempat pendaftarannya belum buka. Kuminta Utha mencari siapapun yang bisa melayani kami.


“Belum buka, mas. Mau tunggu sampai jam 8?” jelas seseorang yang ada di sana. Di sana ada tiga orang. Seorang perawat (terlihat dari pakaian dan nametag nya).


Tapi ini kelinci saya sudah sekarat,” kata Utha.


“Yaa belum ada dokternya, mas. Kami tidak berani.”


“Praktek dokter hewan, dimana?” tanyaku. Kaki si grey memberontak, menendang-nendang. Dia terus berteriak, menyayat sekali.


Para petugas medis itu saling berdiskusi, sementara si mbak Suster memegang si grey dalam dekapanku, sambil mencoba memeriksa2 dan bertanya: “Ini sudah berapa lama? Apa gejalanya? Bla, bla, bla…” Sial, orang lagi buru2 begini malah ditanyain macam2. Aku jawab sekenanya saja, dengan terus mendesak mereka untuk menyegerakan diskusi tentang alamat prakter dokter tsb.


“Di dekat RS Gigi”, katanya.


Kami melaju ke sana, tidak menemukan alamat yang dimaksud. Memang ada beberapa plang praktek dokter di daerah itu, tapi “dokter manusia”. Sekali lagi kami lewati kompleks itu, mengamati satu per satu rumah yang ada. Dan tetap tidak menemukannya. Lalu bertanya pada dua orang yang sedang menyapu di halaman sebuah rumah, tidak pernah tau dokter hewan warga di sana.


Kutelp Mas Kuntz, seorang teman yang akan (atau sudah?) menjadi drh. Tapi berulang kali tidak dijawab. Yes men, jam segini pasti masih tidur. Duuh, padahal si grey di pangkuanku terus berteriak-teriak, aku sampai bisa melihat lidahnya. Dia pun terus meregang-regangkan kaki dan anggota badan lainnya yang bisa digerakkannya. Matanya semakin sayu. Tidak ada lagi kilau jernih di dalam sana.

Lalu bertemu orang lewat, pejalan kaki. Juga tak tahu alamat drh, tapi mengetahui bahwa di dekat sana, daerah Sekip ini, ada RS Hewan. Syip!


Tak sampai lima menit, kami tiba di sana. Kami parkir langsung di depan pintu masuk. Kuminta Utha menanyakan apakah ada UGD atau dokter jaga. Satpam bilang, “Biar saya hubungi, mas”. Ah, berapa lama lagi kami harus menunggu?


Kuamati si grey, perutnya sudah tidak bergerak seperti tadi. Matanya sudah merapat. Beberapa saat sebelum ini aku mendengar dia mendesah/berteriak panjang beberapa kali sambil meronta-ronta. Entah mengapa, aku merasa kini ia sudah “pergi”.


Ternyata, tak terlalu lama dokter muncul, langsung menghampiri kami. Aku turun, memberikan si grey padanya. Di ruang periksa, begitu diletakkan di meja, “Sudah mati itu”, kata Utha.

Dokter terus memeriksa jantungnya dan mengambil stetoskop. “Mati, mas”, katanya. “Mencret, kah?” tanyanya sambil menekan-nekan bagian perut si grey.


“Iya.”


“Ya, ini perutnya kembung.”




Aku? Ya nangis lah! Meski baru 10 hari hidup bersama kami. Apalagi, dia kelinci yang paling aku sayang, sebab sangat hiperaktif dan aku suka warna bulunya. Dan entah mengapa, ternyata aku tidak mempunyai satu foto pun bersama si coklat--sebaliknya dengan si grey. Bahkan dua kali kujadikan foto profil di Facebook. Hummm, huge lesson: jangan pilih kasih!





Aku sedih, sebab sehari sebelumnya aku mandikan dia. Kebodohan besar!



Sebab dia masih sangat kecil. Lihatlah tulang kakinya yang tidak lebih besar dari tulang ayam! Itu terlihat sewaktu bulu-bulunya basah. Memang, saat itu Si Utha langsung mengeringkannya dengan hairdryer, tapi ya namanya saja masih kecil, pasti kedinginan. Apalagi katanya, sudah dua minggu ini Jogja sedang dingin-dinginnya.




Aku memandikan si grey sebab badannya sangat kotor dan bau. Bagian bawah badan (perut) lengket kotoran cair (maaf: mencret). Selain merasa risih kalau menggendongnya, aku juga takut jika kotoran itu malah menimbulkan penyakit, tidak hanya bagi mereka (kelinci), tapi juga kami (aku dan Utha).




Ya, meski dokter menyatakan bahwa penyebab kematiannya adalah mencret, aku dan keluarga yakin bahwa dengan memandikan bayi kelinci itu sama dengan menurunkan daya tahan tubuhnya. Sebab, si coklat yang notabene kotorannya lebih cair dan lebih lama menderita mencret saja masih bisa bertahan!


Lalu si coklat diperiksa kesehatannya. Mencret. Diberi obat bubuk (sudah digerus pak dokter) untuk diminumkan (dengan spet semacam suntik tanpa jarum). Obat ini berfungsi sebagai pembunuh bakteri jahat yang terlanjur masuk dalam tubuhnya.




Dokter menganjurkan agar kelincinya di dalam kandang saja, tidak dikeluarkan ke halaman, agar tidak memakan rumput. Meski kami menjamin bahwa rumput di halaman bersih (bahkan sejak memelihara kelinci, Utha tidak mau lagi mencuci mobil di halaman, takut air sabun nempel di rumput yang dimakan kelinci), namun bakteri bisa saja muncul di sana, dibawa oleh siput. Hmmm, kayanya sih enggak pernah lihat siput di halaman. Kalo si Put-ra sih, ada.


Dianjurkan juga untuk tidak terlalu banyak memberi makanan basah seperti kangkung, sawi dan sayuran basah lainnya. Untuk wortel, apel hijau dan pur (sejenis makanan yang sudah diolah, bentuknya sepeti makanan burung –ada di pet shop) boleh diteruskan. Jikapun kelincinya bosan, bisa sesekali diselingi kangkung.


Oh ya, FYI, di Indonesia belum ada vaksin kelinci! Jadi yang dilakukan, menurut dokter, hanya menjaga agar kelinci tidak bersentuhan dengan bakteri.


--07.45

Aku menunggu Utha menyelesaikan urusan administrasi. Utha meng-SMS keluarga, mengabarkan kemalangan ini. Kubuka Facebook. “Adriani menyaksikan anaknya mati di pangkuannya tepat di parkiran RS. Pukul 07.15 tadi.” Begitu status baru yang ku-update di sana (trims untuk ucapannya).


Kemudian aku berpikir, bahwa tadi, ketika aku mendengar desah panjang si Grei—nama ini pernah kuberikan pada si grey—aku meyakini bahwa itulah hembuhasan nafas terakhirnya, ujung hidupnya. Tapi aku masih belum yakin, sebab sepanjang jalan perutnya terus bergerak. Ya tentu saja, karena kami sedang berkendara.




Kalau diingat2, kesal juga dengan RS pertama yang tidak ada dokter jaganya! Nunggu jam 8? Sejam sebelumnya dia sudah meregang nyawa, bos!


--08.00

Kami pulang, dengan hanya membawa Minie—ini adalah nama yang kubaca di kartu rekam medis untuk si coklat yang ditulis Utha. Si Billy—ini nama pemberian kakakku untuk si grey sewaktu dia datang ke Jogja minggu lalu (ini adalah nama kelinci yang pernah kami pelihara waktu kami kecil)—kami tinggalkan di RS. Penguburannya diserahkan pihak RS, “Saya enggak tega kalau harus menguburkannya sendiri,” kata Utha pada dokter.


Sewaktu membawanya dari rumah, aku mengalas tempat dia berbaring dengan potongan bekas selimutku. Selimut merah itu dulu milik papa, lantas kuminta, karena dari sana aku bisa membaui aroma tubuh papa—orang yang paling kucinta di dunia ini.


Itu kemudian menjadi selimut kesayanganku. Sangat JARANG dicuci, sebab aku tidak ingin aromanya berubah. Ketika dicuci, aku terpaksa memakai selimut pengganti yang jarang kugunakan, sebab ‘beda’ rasanya. Selimut merah ini, ketika sudah sobek kemudian kujahit, sobek lagi, kujahit lagi, begitu berulang-ulang sampai mama memotongnya untuk dijadikan kain lap.


Pagi ini, ketika kami menyerahkan tubuh kaku si Grei pada dokter, dokter membungkusnya dengan selimut kesayanganku itu. Semoga bagian lain dariku masih ada bersamanya.


Di jalan, kami hanya diam. Aku nyalakan radio, ada lagu dari sebuh grup band yang selama ini norak bagiku: ST12.


“Inilah saat terakhirku melihat kamu, jatuh hati padamu, menangis pilu saat kuucapkan selamat jalan kasih…”


Tisu di tanganku basah lagi.


***

Di Jalan Kusumanegara Utha mampir isi bensin, aku turun ke pasar yang berada tepat di samping POM—beli wortel yang persediaannya sudah menipis di rumah. Ketika aku naik lagi, si Minie sudah duduk di pangkuan Utha. “Keluar dari keranjangnya,” jelas Utha.




***

Di rumah, Mama langsung nelp. Sebenarnya Mama dan Papa tiap pagi punya rutinitas menelepon kami. Hanya saja, sejak tadi aku tidak sempat menjawab telp mereka yang berdering berulang-ulang. Utha sempat menjawab telp, tapi hanya sebentar, dan berjanji akan menelepon balik jika keadaan sudah lebih tenang. Maka mama menelepon lagi. Kemudian papa. Tadi di RS sempat ditelepon kakak.


“Yaudah dek, enggak usah nangis, habis ini beli lagi ya…”, kata papa. Dueh pa, bukan itu persoalannya.


“Itu harus beli lagi yang jantannya. Jangan sampai dia kesepian sendiri,” kata mama. Ya, ma…


“Kandangnya yang bersih, jangan terlalu dekat dengan tanah, jangan dibiarkan makan rumput, bla, bla, bla…” kata kakak.


Aku nangis lagi waktu mereka nelp. Yah, tadi di RS pun enggak peduli dilihat orang-orang. ~Btw (‘gak-nyambung-mode’), sepertinya aku kenal itu dokter. Pernah satu organisasi denganku di kegiatan kampus.


Grei sayang, aku merasa berdosa dengan tertutupnya mata bundarmu yang tak lagi bercahaya bening itu. Semoga kamu memafkan aku ya, nak…




“Well now she’s gone

Even though I hold her tight

I lost my love, my life, that night

Oh where, oh where, can my baby be?

The Lord took her away from me

She’s gone to heaven, so I’ve got to be good

So I can see my baby when I leave this world”

*lasak (bahasa orang Medan) = hiperaktif

*teleng = seperti tidak bertulang

Kamis, 04 Juni 2009

Urgently Required

The National and International Research Collaboration is a division at Institute for Research and Community Service (IRCS/LPPM) of Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Besides manages research collaboration, assistance, training and workshop, providing collaboration with government and international agencies to assist areas and community development is the main purpose of this new division. Please visithttp://lppm.ugm.ac.id/

As a fast growing division, The National and International Research Collaboration seeks dynamic individuals to fill the:


Administration Staff

(Yogyakarta Office)


Responsibilities:

  • To comply and support the overall programme in implementing the requirements at each stage of division project.
  • Create and maintain contacts (correspondences) with the government, international and other stakeholders’ agencies.
  • Create training/workshop to relevant activities of the division.
  • Undertake any other relevant duty as might be required from time to time.

Requirements:

  • Male/female, not more than 28 years old.
  • Working experience preferred.
  • A Diploma Degree, or equivalent, in a social sciences discipline.
  • Excellent command of English language with exceptional writing and communication skills, and full computer literacy.
  • Good communication and interpersonal skills and the ability to work effectively as part of a team.
  • Ability to relate to stakeholders across all levels.
  • Good time and stress management skills.
  • Commitment, motivation, independent, and initiative.
  • Excellent command on MS Office package and good understanding of data base application.

Please submit your application and curriculum vitae to lppm@ugm.ac.idput job title in Subject line and CC to pertiwiningrum@gmail.com and uni_lppm@yahoo.com. Send it to Secretary of LPPM - Bidang IV LPPM UGM.

Only applications in English and short listed candidates will be notified. Applications submitted after June 15, 2009 will not be considered.

Senin, 09 Februari 2009

Need Pray!

Tomorrow, 8am, i will gonna have a test.

Its really important for me, @ least for the next 3 months!
Help me to send this msg to God.
Thx, dude!

Rabu, 28 Januari 2009

You Will Not Go Down!

We will not go down (Gaza Tonight)

(Michael Heart)

"A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In the night, without a fight

We will not go down
In Gaza tonight"


What a powerful song dealing with such a tragedy!

I would like to thank Michael Heart (www.michaelheart.com) for the heart he take.

I just hope that this song could reach everybody's heart.

Than could give people of Gaza the hope and courage to survive another day!!


Selasa, 23 Desember 2008

TakuT!

Aku takuT!
seharian ini,
semalaman tadi,
aku takuT!

Gara2 sakit kepala (ini hari ketiga), semalam mencoba tidur jam 8, naik t4 tidur, baca koran, malah gak tidur2 juga.
Jam 9 nge-net. liat2 foto kawinan Aan yang diupload Zen di FB. Lumanyan bikin enak pikiran, cus ToEL langsung respon, jadi kata2an (as ussual) di comments fotonya.
Jam 10
jam 11
jam 12
jam 1

Putra belum balik, ternyata emang gak pulang.
aku tidur.
naik kasur lagi,
nepok2 bantal lagi,
tarik selimut
matikan lampu
tidur!
yeahhhh!

tapi gak nyampe 10 menit,
keganggu lagi,
spt ada penampakan jauh di dalam pikiran sana,
spt ada suara2 jauh di dalam kepala sana,
tereak,
tangis,

ah,
bikin terjaga aja pun!!!

_dari sini aku tahu, malam ini akan terjadi sesuatu. aku yakin, paling tidak, hari itu akan datang besok atau dalam minggu ini juga.

tapi aku tertidur juga, entah jam berapa.
4.30 bangun, gara2 dua plastik kresek di balik pot antoriun di samping rumah.]
aku lupa,
atau kurang jeli.

Hmmm, aromanya,
bau,
menyengat,
darah,

"Ini mau diapakan?" teriak Mama.
"Bakar!" kataku dalam kantuk -biasa, gak pernah bangun sepagi itu.

bla
bla
bla

pagi ini berakhir di pasar,
mengantar Mama beli bahan makanan untuk liburan natal.
Met liburan.

Senin, 27 Oktober 2008

Gila, ya!

Udah tanggal 25 Oktober ajah!!!